Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda, “Dahulu
Nabi Daud as telah membagi masa ini menjadi empat bagian: Satu hari
diperuntukkannya mengkaji ilmu bersama kaum Bani Israil, satu hari
dipergunakannya di mihrab, satu hari dipergunakan untuk melaksanakan
pengadilan dan sehari lagi untuk para istri beliau.”
Ketika
beliau sedang mengkaji ilmu bersama kaum Bani Israil, tiba-tiba sebagian
dari mereka berkata, “Tidak sehari pun yang dilalui anak cucu Adam,
kecuali dia melakukan suatu perbuatan dosa.”
Daud as berkata
dalam hati, “Hari dimana aku menyendiri di mihrab, pasti aku terhindar
dari dosa.” Allah pun menyampaikan wahyu kepada beliau, “Hai Daud,
waspadalah sampai kau lihat cobaanmu!”
Dan diceritakan dari Al
Hasan, “Ketika Daud as berada di mihrabnya sedang membuka-buka kitab
Zabur untuk dibaca, tiba-tiba masuklah seekor burung dari sebuah celah
rumah dan hinggap di hadapan beliau. Tubuh burung itu terbuat dari emas
dan sepasang sayapnya dari sutera halus dan bermahkotakan mutiara.
Paruhnya terbuat dari permata zamrud dan sepasang kakinya pun terbuat
dari permata pirus.
Karena burung yang sangat indah itu hinggap
di hadapan Nabi Daud as , beliau pun memperhatikannya dan berkeyakinan
bahwa burung tersebut jenis burung surga, bahkan beliau terpesona akan
keindahannya. Pada masa itu Nabi Daud as mempunyai seorang putera kecil,
maka beliau berkata, “Sebaiknya burung ini aku tangkap saja, lalu
kuperlihatkan kepada puteraku.”
Nabi Daud as berusaha
menangkapnya, akan tetapi burung tersebut terbang menjauh, dan beliau
pun tetap berkeinginan untuk mendapatkannya. Setiap kali tangan beliau
hendak meraihnya, seketika itu pula burung tersebut menghindar.
Begitulah seterusnya, setiap kali beliau mendekat, burung itu menjauh
kembali hingga Nabi Daud as berdiri dari tempatnya dan menutup Kitab
Zabur beliau.
Nabi Daud as mencarinya terus hingga sampailah di
sebuah celah. Dan masuklah Daud as ke dalam lubang tersebut, tiba-tiba
pandangan beliau menangkap sosok wanita yang sedang mandi. Beliau
terpaku menyaksikan keindahan ciptaan Allah tersebut. Sementara sang
wanita itu pun akhirnya mengetahui bahwa sepasang mata mengawasi
dirinya, seketika itu diurainya keindahan rambut panjangnya untuk
menutupi sekujur tubuhnya.
Kembali pada hadis Hasan. Hasan
menambahkan; setelah wanita cantik itu menguraikan rambutnya. Daud as
semakin bertambah kagum (akan kecantikannya). Kemudian beliau kembali ke
tempat semula (mihrab) dengan hati yang dipenuhi gejolak cinta membara
kepada sang wanita itu.
Akhirnya Daud as mengutus seseorang untuk
mencari informasi tentang identitas wanita cantik tersebut. Utusan itu
kembali kepada Nabi Daud as dengan membawa informasi yang didapatkannya.
“Dia bernama Tasyayu, putri Hanana. Suaminya bernama Uriya bin Shura,
kini berada di Balqa’ bersama kemenakan (putra saudara wanita) Nabi
Daud, sedang mengepung sebuah benteng musuh.
Nabi Daud as akhirnya mengirim surat kepada kemenakannya yang berisikan:
“Jika
suratku ini sudah sampai kepadamu, maka perintahkanlah kepada Uriya bin
Shura agar dia membawa tabut dan bergabung dalam barisan (tentara)
terdepan kita!”
Biasanya anggota pasukan yang berada pada barisan
terdepan, tidak kembali sebelum terbunuh atau mendapatkan kemenangan
dari Allah SWT.
Pemimpin tentara itu memanggil Uriya dan kemudian
membacakan surat Nabi Daud as. Uriya pun menjawab, “Aku siap melakukan
semuanya!”
Uriya lantas membawa tabut dan berjalan bersama-sama
pasukan di barisan terdepan, dan akhirnya terbunuh. Setelah Uriya gugur,
putra saudara wanita (kemenakan) Daud as berkirim surat kepada beliau
untuk mengabarkan berita tentang gugurnya Uriya.
Ketika masa iddah istri Uriya telah habis, Daud as mengutus seseorang meminang Tasyayu’. Selanjutnya menikahlah mereka.
Setelah
Nabi Daud as menyunting Tasyayu binti Hanana, ketika sedang berkhalwat
di mihrab, tiba-tiba menangkap suara keras yang diikuti munculnya dua
laki-laki asing. Keduanya lantas menyerbu Nabi Daud as, hingga beliau
pun terkejut karenanya. Kedua laki-laki itu berkata, “Jangan terkejut!
Kami adalah dua orang laki-laki yang sedang terlibat dalam suatu
perkara, dimana salah satu dari kami telah berbuat zalim atas yang lain.
Karena itu, berilah kami keputusan yang adil dan janganlah Anda
menyimpang dari kebenaran dan tunjukan kami ke jalan yang lurus!”
Nabi Daud as berkata, “Coba ceritakan kepadaku akan keberadaan kalian berdua!”
Salah
seorang dari keduanya berkata, “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99
ekor kambing betina, sedangkan aku hanya memiliki seekor. Saudaraku ini
lalu berkata kepadaku, ‘Serahkanlah kambing itu kepadaku!’ Dia pun
selalu mengalahkanku dalam setiap perdebatan, yakni dengan memaksa dan
berbuat aniaya terhadapku. Dia pun secara paksa meminta dan mengambil
kambingku untuk digabungkan dengan kambing-kambingnya. Dalam berbicara
pun dia lebih unggul dibanding aku, jika dipanggil, dialah yang lebih
dahulu datang dan jika keluar, dia lebih banyak pengikutnya.”
Nabi
Daud as lalu berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim dengan
meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan
sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian
mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh, dan amat sedikitlah mereka ini.”
(QS Shaad: 24)
Perawi hadis ini selanjutnya mengatakan, “Kemudian tertawalah orang yang dituduh melakukan semua itu.”
Nabi
Daud as pun berkata, “Engkau telah berbuat zalim, mengapa justru
tertawa, rupanya kau perlu kapak untuk menghancurkan ini dan inimu?” –
yakni kening dan mulutnya.
Malaikat (yang berubah wujud menjadi
seorang laki-laki) itu lalu berkata, “Saya kira Andalah yang perlu
diperlakukan begitu!” Akhirnya kedua malaikat itu menghilang.
Dalam
riwayat lain perawi berkata, “Kedua malaikat itu lalu mengubah
bentuknya (pada bentuknya yang asli) dan kemudian naik (ke langit)
seraya berkata, “Lelaki ini telah menghakimi dirinya sendiri.”
Nabi
Daud as pun mengerti bahwa yang dimaksud adalah diri beliau sendiri.
Beliau pun merebahkan diri, bersujud selama 40 hari. Selama bersujud
beliau tidak pernah mengangkat kepala, kecuali hanya untuk melakukan
suatu kebutuhan yang semestinya dilakukan. Seusai menunaikan
kebutuhannya, beliau pun sujud kembali.
Dalam keseharian beliau
tidak makan dan minum, beliau terus-menerus menangis sehingga di sekitar
kepala tumbuh rerumputan. Nabi Daud as selalu memanggil nama Tuhannya,
Allah SWT seraya mengucapkan taubat.
Dalam sujudnya selalu
membaca, “Maha Suci Sang Pencipta cahaya yang menghalangi semua hati.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, Engkau telah mengosongkan
antara aku dan musuhku iblis sehingga aku tidak mampu untuk memfitnahnya
ketika Engkau turun bersamaku.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya!
Tuhanku, selamanya aku tidak pernah mengambil hikmah dari apa yang
pernah aku nasihatkan kepada orang lain. Tuhanku, Engkau telah
memerintahkan kepadaku agar aku terhadap anak yatim bagaikan sang ayah
yang penuh kasih sayang dan terhadap sang janda bagaikan suami yang
penuh kasih sayang pula, tapi aku lalu melupakan akan janji Engkau.
Maha
Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, dengan mata yang mana aku harus
melihat Engkau pada hari kiamat nanti? Karena sesungguhnya orang-orang
yang zalim telah memandang dari sisi yang samar-samar.
Maha Suci Sang Pencipta, Tuhanku! Kecelakaanlah bagi Daud akibat dosa besar yang telah menimpanya.
Maha Suci Sang Pencipta, Tuhanku. Kerusakanlah bagi Daud ketika tabir telah dibuka darinya.”
Kemudian kepada beliau dikatakan, “Inilah Daud yang salah itu?”
(Nabi
Daud as meneruskan doanya) , “Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku,
hanya kepada Engkau-lah aku lari dengan membawa segala dosaku dan aku
mengaku atas segala kesalahanku. Oleh karena itu, janganlah Engkau
jadikan aku orang-orang yang berputus asa dan jangan pula Engkau
susahkan aku pada hari Kiamat nanti.”
Nabi Daud as mengulang-ngulang doa tersebut dalam munajat beliau.
Selanjutnya
dikatakan oleh sang perawi, “Lalu datanglah panggilan kepadanya,
‘Laparkah engkau maka engkau akan diberi makan? Hauskah engkau maka
engkau akan diberi minum? Teraniayakah engkau maka engkau akan diberi
pertolongan?’ Akan tetapi, Daud as tidak menanggapinya dalam menyebutkan
kesalahannya.
Dikatakan pula oleh sang perawi, “Nabi Daud as pun
berteriak dengan teriakan yang menggoncangkan apa yang ada di
sekeliling beliau. Beliau memanggil-manggil, ‘Wahai Tuhanku! Ampunilah
dosa yang telah menimpaku!’ Beliau pun dipanggil, ‘Wahai Daud, angkatlah
kepalamu! Sungguh Aku telah mengampuni dosamu’.”
Dari Wahb bin
Munabbih, “Sesungguhnya ketika Nabi Daud as datang ke makam Uriya,
beliau duduk bersimpuh di sisinya seraya menuangkan debu di atas kepala
beliau dan berkata, “Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang
panjanglah bagi Daud. Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi
Daud, kemudian kerusakanlah bagi Daud ketika timbangan amal telah
dipancangkan.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud,
kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud pada hari ketika orang
yang dianiaya telah menuntut balas kepada orang yang menganiaya.
Maha
Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan
yang panjanglah bagi Daud ketika dia dicampakkan di atas mukanya ke
neraka bersama dengan orang-orang yang bersalah.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud.”
Berkatalah
sang perawi, “Lalu sampailah kepada Nabi Daud as sebuah panggilan dari
langit, “Wahai Daud, sungguh Aku telah mengampuni dosamu, Aku telah
mengasihi tangismu dan Aku telah memaafkan kesalahanmu.”
Nabi Daud as berkata, “Bagaimana mungkin Engkau memberikan ampunan kepadaku, sedangkan temanku ini tidak mau mengampuniku.”
Allah
SWT berfirman, “Wahai Daud, Aku telah memberikan pahala kepadanya di
akhirat nanti, dimana (kenikmatan) pahala itu sebelumnya belum pernah
dipandang oleh kedua matanya dan belum pernah didengar oleh kedua
telinganya.
Lalu Ku-katakan, “Puaskah hamba-Ku?”
Ia berkata, “Dari mana aku mendapatkan ini, padahal amalku belum mencapainya?”
Aku
pun berfirman kepadanya, “Ini adalah sebagai pengganti dari hamba-Ku
Daud, lalu Aku memintanya memberikannya kepadamu dan dia memberikannya
kepadamu karena Aku.”
Nabi Daud as pun berkata, “Wahai Tuhanku, sekarang aku tahu bahwa Engkau telah mengampuniku.”
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Rabu, 16 Maret 2016
Selasa, 15 Maret 2016
Doa Nabi Sulaiman as untuk Mensyukuri Nikmat
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ
وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي
بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai, serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih." (QS. Al-Naml: 19).
"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai, serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih." (QS. Al-Naml: 19).
Senin, 14 Maret 2016
Kisah Nabi Daud A.S
Nabi Daud ialah salah seorang rasul daripada 25 Rasul yang wajib kita ketahui. Nabi Daud merupakan antara Rasul yang dianugerahkan Allah kerasulan dan kerajaan. Kitab Nabi Daud adalah kitab zabur. Firman Allah dalam surah al Israa: "Dan Tuhanmu lebih mengetahui akan sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi; dan sesungguhnya Kami telah melebihkan setengah Nabi-Nabi atas setengahnya yang lain; dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Nabi Daud." [55]
Kelebihan Nabi Daud antaranya ialah, Allah menundukkan gunung-ganang dan burung-burung dan memerintahnya bertasbih bersama-sama Nabi Daud. Dia juga mempunyai suara yang merdu dan memahami bahasa burung. Dan Nabi Daud mempunyai keistimewaan membuat baju perang daripada besi. Dia dapat melembutkan besi tanpa perlu menggunakan api. Hal ini diterangkan dalam Al Quran surah Saba 10 dan 11.
“Dan demi sesungguhnya, Kami telah memberikan kepada Nabi Daud limpah kurnia dari Kami (sambil Kami berfirman): “Hai gunung-ganang, ulang-ulangilah mengucap tasbih bersama-sama dengan Nabi Daud, dan wahai burung-burung (bertasbihlah bersama-sama dengannya)!” Dan juga telah melembutkan besi baginya”[ 10]
(Serta Kami wahyukan kepadanya): “Buatlah baju-baju besi yang luas labuh, dan sempurnakanlah jalinannya sekadar yang dikehendaki; dan kerjakanlah kamu (wahai Daud dan umatmu) amal-amal yang soleh, sesungguhnya Aku Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan”[ 11]
Nabi Daud adalah nabi yang berani. Nabi Daud menyertai perang bersama Raja Talut melawan Jalut. Pada masa itu dia masih muda. Tidak semua orang beriman dalam pasukan Raja Talut ini. Untuk menguji siapa yang benar-benar beriman, Allah telah mengilhamkan Raja Talut untuk menguji tenteranya. Ini diceritakan dalam Al Baqarah ayat 249-251:
Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah ia dari pengikutku, dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya ia dari pengikutku, kecuali orang yang menceduk satu cedukan dengan tangannya”. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari mereka. Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): “Kami pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya”. Berkata pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: “Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah; dan Allah (sentiasa) bersama-sama orang-orang yang sabar”.[249]
Dan apabila mereka (yang beriman itu) keluar menentang Jalut dan tenteranya, mereka berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! Limpahkanlah sabar kepada kami, dan teguhkanlah tapak pendirian kami serta menangkanlah kami terhadap kaum yang kafir”[250]
Oleh sebab itu, mereka dapat mengalahkan tentera Jalut dengan izin Allah, dan Nabi Daud (yang turut serta dalam tentera Talut) membunuh Jalut. Dan (sesudah itu) Allah memberikan kepadanya (Nabi Daud) kuasa pemerintahan, dan hikmat (pangkat kenabian) serta diajarkannya apa yang dikehendakiNya. Dan kalaulah Allah tidak menolak setengah manusia (yang ingkar dan derhaka) dengan setengahnya yang lain (yang beriman dan setia) nescaya rosak binasalah bumi ini; akan tetapi Allah sentiasa melimpahkan kurniaNya kepada sekalian alam.[251]
Dan sudahkah sampai kepadamu (wahai Muhammad) berita (perbicaraan dua) orang yang berselisihan? Ketika mereka memanjat tembok tempat ibadat;[21]
Dan (sebutkanlah peristiwa) Nabi Daud dengan Nabi Sulaiman, ketika mereka berdua menghukum mengenai tanaman-tanaman semasa ia dirosakkan oleh kambing kaumnya pada waktu malam; dan sememangnya Kamilah yang memerhati dan mengesahkan hukuman mereka.[78]
Maka Kami beri Nabi Sulaiman memahami hukum yang lebih tepat bagi masalah itu; dan masing-masing (dari mereka berdua) Kami berikan hikmat kebijaksanaan dan ilmu (yang banyak); dan Kami mudahkan gunung-ganang dan unggas memuji Kami bersama-sama dengan Nabi Daud; dan adalah Kami berkuasa melakukan semuanya itu.[79]
Dan Kami mengajar Nabi Daud membuat baju-baju besi untuk kamu, untuk menjaga keselamatan kamu dalam mana-mana peperangan kamu, maka adakah kamu sentiasa bersyukur?[80]
Kelebihan Nabi Daud antaranya ialah, Allah menundukkan gunung-ganang dan burung-burung dan memerintahnya bertasbih bersama-sama Nabi Daud. Dia juga mempunyai suara yang merdu dan memahami bahasa burung. Dan Nabi Daud mempunyai keistimewaan membuat baju perang daripada besi. Dia dapat melembutkan besi tanpa perlu menggunakan api. Hal ini diterangkan dalam Al Quran surah Saba 10 dan 11.
“Dan demi sesungguhnya, Kami telah memberikan kepada Nabi Daud limpah kurnia dari Kami (sambil Kami berfirman): “Hai gunung-ganang, ulang-ulangilah mengucap tasbih bersama-sama dengan Nabi Daud, dan wahai burung-burung (bertasbihlah bersama-sama dengannya)!” Dan juga telah melembutkan besi baginya”[ 10]
(Serta Kami wahyukan kepadanya): “Buatlah baju-baju besi yang luas labuh, dan sempurnakanlah jalinannya sekadar yang dikehendaki; dan kerjakanlah kamu (wahai Daud dan umatmu) amal-amal yang soleh, sesungguhnya Aku Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan”[ 11]
Nabi Daud adalah nabi yang berani. Nabi Daud menyertai perang bersama Raja Talut melawan Jalut. Pada masa itu dia masih muda. Tidak semua orang beriman dalam pasukan Raja Talut ini. Untuk menguji siapa yang benar-benar beriman, Allah telah mengilhamkan Raja Talut untuk menguji tenteranya. Ini diceritakan dalam Al Baqarah ayat 249-251:
Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah ia dari pengikutku, dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya ia dari pengikutku, kecuali orang yang menceduk satu cedukan dengan tangannya”. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari mereka. Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): “Kami pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya”. Berkata pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: “Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah; dan Allah (sentiasa) bersama-sama orang-orang yang sabar”.[249]
Dan apabila mereka (yang beriman itu) keluar menentang Jalut dan tenteranya, mereka berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! Limpahkanlah sabar kepada kami, dan teguhkanlah tapak pendirian kami serta menangkanlah kami terhadap kaum yang kafir”[250]
Oleh sebab itu, mereka dapat mengalahkan tentera Jalut dengan izin Allah, dan Nabi Daud (yang turut serta dalam tentera Talut) membunuh Jalut. Dan (sesudah itu) Allah memberikan kepadanya (Nabi Daud) kuasa pemerintahan, dan hikmat (pangkat kenabian) serta diajarkannya apa yang dikehendakiNya. Dan kalaulah Allah tidak menolak setengah manusia (yang ingkar dan derhaka) dengan setengahnya yang lain (yang beriman dan setia) nescaya rosak binasalah bumi ini; akan tetapi Allah sentiasa melimpahkan kurniaNya kepada sekalian alam.[251]
Nabi Daud membahagikan
hidupnya kepada 4 bahagian. Satu bahagian untuk bekerja dan berehat, satu
bahagian untuk beribadat, satu bahagian untuk mendengar masalah rakyat dan satu
bahagian lagi untuk memberi khutbah/ceramah. Pada suatu hari, nabi Daud tidak
membenarkan siapa-siapa pun untuk bertemunya kerana hari tersebut telah dia
khususkan untuk beribadah. Dia telah memberitahu pengawal-pengawalnya. Tapi
entah bagaimana, dua orang lelaki telah memanjat tembok istananya untuk
menemuinya. Nabi Daud mula berasa takut dalam hatinya. Tapi dia masih melayan
keduanya tersebut. Salah seorang lelaki tersebut mempunyai 99 ekor kambing dan
seorang lagi hanya mempunyai seekor sahaja. Lelaki yang ada hanya seekor
kambing itu memberitahu bahawa yang ada 99 ekor kambing itu inginkan kambingnya
yang hanya seekor dan dia telah kalah dalam perdebatan dengan orang yang ada
lagi banyak kambing itu. Nabi Daud terburu-buru membuat keputusan bahawa orang
yang satu lagi itu berlaku zalim tanpa mendengar daripada kedua-dua belah
pihak. Sebenarnya dua orang lelaki itu adalah malaikat yang dihantar Allah
untuk menguji kebijaksanaan Nabi Daud. Firman Allah dalam surah Sad:
Dan sudahkah sampai kepadamu (wahai Muhammad) berita (perbicaraan dua) orang yang berselisihan? Ketika mereka memanjat tembok tempat ibadat;[21]
Iaitu ketika mereka masuk
kepada Nabi Daud, lalu ia terkejut melihat mereka; mereka berkata kepadanya: ”
Janganlah takut, (kami ini) adalah dua orang yang berselisihan, salah seorang
dari kami telah berlaku zalim kepada yang lain; oleh itu hukumkanlah di antara
kami dengan adil, dan janganlah melampaui (batas keadilan), serta pimpinlah
kami ke jalan yang lurus.[22]
” Sebenarnya orang ini
ialah (seorang sahabat sebagai) saudaraku; ia mempunyai sembilan puluh sembilan
ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor sahaja; dalam pada itu ia
(mendesakku dengan) berkata: ‘ Serahkanlah yang seekor itu kepadaku ‘, dan dia
telah mengalahkan daku dalam merundingkan perkara itu”.[23]
Nabi Daud berkata: ”
Sesungguhnya ia telah berlaku zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu
(sebagai tambahan) kepada kambing-kambingnya; dan sesungguhnya kebanyakan dari
orang-orang yang bergaul dan berhubungan (dalam berbagai-bagai lapangan hidup),
setengahnya berlaku zalim kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang
yang beriman dan beramal soleh; sedang mereka amatlah sedikit!” Dan Nabi Daud
(setelah berfikir sejurus), mengetahui sebenarnya Kami telah mengujinya (dengan
peristiwa itu), lalu ia memohon ampun kepada Tuhannya sambil merebahkan dirinya
sujud, serta ia rujuk kembali (bertaubat).[24]
Ada suatu lagi cerita di
dalam Al Quran mengenai nabi Daud dan anaknya Nabi Sulaiman. Ada seorang lelaki
mempunyai kebun dan seorang yang mempunyai kambing. Kambing itu telah
merosakkan kebun orang yang satu lagi itu. Nabi Daud memutuskan untuk memberi
kambing kepada pemilik kebun itu. Tapi Nabi Sulaiman ada idea lebih baik. Dia
mencadangkan, pemilik kambing harus menyerahkan kambing kepada pemilik kebun
untuk sementara waktu, dan pemilik kebun itu boleh mengambil manfaat daripada
kambing itu. Dan pemilik kambing yang asal itu harus mengerjakan kebun yang
rosak itu sampai hasilnya boleh dituai. Selepas kebun sudah boleh dituai, pemilik
kebun harus memulangkan kembali kambing itu. Dalam surah Al-Anbiya Allah
berfirman:
Dan (sebutkanlah peristiwa) Nabi Daud dengan Nabi Sulaiman, ketika mereka berdua menghukum mengenai tanaman-tanaman semasa ia dirosakkan oleh kambing kaumnya pada waktu malam; dan sememangnya Kamilah yang memerhati dan mengesahkan hukuman mereka.[78]
Maka Kami beri Nabi Sulaiman memahami hukum yang lebih tepat bagi masalah itu; dan masing-masing (dari mereka berdua) Kami berikan hikmat kebijaksanaan dan ilmu (yang banyak); dan Kami mudahkan gunung-ganang dan unggas memuji Kami bersama-sama dengan Nabi Daud; dan adalah Kami berkuasa melakukan semuanya itu.[79]
Dan Kami mengajar Nabi Daud membuat baju-baju besi untuk kamu, untuk menjaga keselamatan kamu dalam mana-mana peperangan kamu, maka adakah kamu sentiasa bersyukur?[80]
Nabi Daud juga dipuji
sebagai sebaik-baik orang yang beribadat dan berpuasa. Hadis Rasulullah
mengenainya:
David (PBUH) fasted every
other day. ‘Abdullah
Ibn ‘Amr Ibn Al-‘As narrated: “Allah’sApostle (PBUH) said to me: The most
beloved fasting to Allah was the fasting of (the Prophet)David, who used to
fast alternate days. And the most beloved prayer to Allah was the prayer
ofDavid, who used to sleep for (the first) half of the night and pray for one
third of it and (again)sleep for a sixth of it.”1
‘Abdullah Ibn ‘Amr Ibn Al-‘As also narrated:
“The Prophet (PBUH) said to me: I havebeen informed that you pray all the
nights and observe fast all the days; is this true? I replied: Yes.He said: If
you do so, your eyes will be weak and you will get bored. So fast three days a
month, forthis will be the fasting of a whole year. (Or equal to the fasting of
a whole year). I said: I findmyself able to fast more. He said: Then fast like
the fasting of (the Prophet) David (PBUH) whoused to fast on alternate days and
would not flee on facing the enemy.”2
Nabi Daud ialah salah seorang rasul daripada 25 Rasul yang wajib kita
ketahui. Nabi Daud merupakan antara Rasul yang dianugerahkan Allah
kerasulan dan kerajaan. Kitab Nabi Daud adalah kitab zabur. Firman Allah
dalam surah al Israa: "Dan Tuhanmu lebih mengetahui akan sekalian
makhluk yang ada di langit dan di bumi; dan sesungguhnya Kami telah
melebihkan setengah Nabi-Nabi atas setengahnya yang lain; dan Kami telah
memberikan Kitab Zabur kepada Nabi Daud." [55]
Kelebihan Nabi Daud antaranya ialah, Allah menundukkan gunung-ganang dan
burung-burung dan memerintahnya bertasbih bersama-sama Nabi Daud. Dia
juga mempunyai suara yang merdu dan memahami bahasa burung. Dan Nabi
Daud mempunyai keistimewaan membuat baju perang daripada besi. Dia dapat
melembutkan besi tanpa perlu menggunakan api. Hal ini diterangkan dalam
Al Quran surah Saba 10 dan 11.
“Dan demi sesungguhnya, Kami telah memberikan kepada Nabi Daud limpah
kurnia dari Kami (sambil Kami berfirman): “Hai gunung-ganang,
ulang-ulangilah mengucap tasbih bersama-sama dengan Nabi Daud, dan wahai
burung-burung (bertasbihlah bersama-sama dengannya)!” Dan juga telah
melembutkan besi baginya”[ 10]
(Serta Kami wahyukan kepadanya): “Buatlah baju-baju besi yang luas
labuh, dan sempurnakanlah jalinannya sekadar yang dikehendaki; dan
kerjakanlah kamu (wahai Daud dan umatmu) amal-amal yang soleh,
sesungguhnya Aku Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan”[ 11]
Nabi Daud adalah nabi yang berani. Nabi Daud menyertai perang bersama
Raja Talut melawan Jalut. Pada masa itu dia masih muda. Tidak semua
orang beriman dalam pasukan Raja Talut ini. Untuk menguji siapa yang
benar-benar beriman, Allah telah mengilhamkan Raja Talut untuk menguji
tenteranya. Ini diceritakan dalam Al Baqarah ayat 249-251:
Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia:
“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu
sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah ia dari
pengikutku, dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya ia
dari pengikutku, kecuali orang yang menceduk satu cedukan dengan
tangannya”. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari
sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari
mereka. Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi
sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): “Kami
pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya”. Berkata
pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: “Berapa
banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan
golongan yang banyak dengan izin Allah; dan Allah (sentiasa)
bersama-sama orang-orang yang sabar”.[249]
Dan apabila mereka (yang beriman itu) keluar menentang Jalut dan
tenteranya, mereka berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami!
Limpahkanlah sabar kepada kami, dan teguhkanlah tapak pendirian kami
serta menangkanlah kami terhadap kaum yang kafir”[250]
Oleh sebab itu, mereka dapat mengalahkan tentera Jalut dengan izin
Allah, dan Nabi Daud (yang turut serta dalam tentera Talut) membunuh
Jalut. Dan (sesudah itu) Allah memberikan kepadanya (Nabi Daud) kuasa
pemerintahan, dan hikmat (pangkat kenabian) serta diajarkannya apa yang
dikehendakiNya. Dan kalaulah Allah tidak menolak setengah manusia (yang
ingkar dan derhaka) dengan setengahnya yang lain (yang beriman dan
setia) nescaya rosak binasalah bumi ini; akan tetapi Allah sentiasa
melimpahkan kurniaNya kepada sekalian alam.[251]
Copy the BEST Traders and Make Money : http://ow.ly/KNICZ
Copy the BEST Traders and Make Money : http://ow.ly/KNICZ
Doa Dapat Merubah Takdir
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang
dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak
ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain
(perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mu’min 60)
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mu’min 60)
Amalan Ibadah Paling Dicintai ALLAH SWT
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ
إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ
اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا
وَيُفْطِرُ يَوْمًا
“Puasa yang paling disukai di sisi
Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah
Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun
pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam
malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan buka sehari.”
Para Nabi dan Rasul
Para Nabi dan Rasul adalah utusan ALLAH SWT... Mereka juga mendapatkan cobaan dan fitnah seperti manusia lain, dan ada yang berdosa, namun mereka selalu mendapatkan tuntunan ilahiah, oleh karena itu kita harus menghormati mereka... Wallahu'alam
Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S
Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika
tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab
az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.
Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.
Lalu Nabi Daud A.S. berkata pada dirinya, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?"
Setelah Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Allah pun mengizinkan ulat merah itu berbicara. Lalu ulat merah itu pun mula berbicara kepada Nabi Daud A.S. "Wahai Nabi Allah! Allah S.W.T telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca ‘Subhanallahu ivalhamdulillahi wala ilaha illallahu mllahu akbar’ setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca ‘Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim’ setiap malam sebanyak 1000 kali.
Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud A.S, "Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?"
Karena pertanyaan Nabi Daud tersebut terkesan meremehkan kata-kata semut tadi. Nabi Daun segera tersadar bahwa telah memandang sebelah mata kepada ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah S.W.T.. Maka Nabi Daud A.S. pun bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.WT.
Begitulah sikap para Nabi A.S. apabila mereka menyadari kekhilafan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.WT. Kisah- kisah yang berlaku pada zaman para Nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa saja makhluk Allah yang berada di bumi yang sama-sama kita tumpangi ini.
Dikutip dari 115 Kisah Teladan Penuh Hikmah [ ALLAH TIDAK PERNAH TIDUR ]
Pnerbit : Karta Media
Wendy Setyawan, S.IP
Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.
Lalu Nabi Daud A.S. berkata pada dirinya, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?"
Setelah Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Allah pun mengizinkan ulat merah itu berbicara. Lalu ulat merah itu pun mula berbicara kepada Nabi Daud A.S. "Wahai Nabi Allah! Allah S.W.T telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca ‘Subhanallahu ivalhamdulillahi wala ilaha illallahu mllahu akbar’ setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca ‘Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim’ setiap malam sebanyak 1000 kali.
Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud A.S, "Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?"
Karena pertanyaan Nabi Daud tersebut terkesan meremehkan kata-kata semut tadi. Nabi Daun segera tersadar bahwa telah memandang sebelah mata kepada ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah S.W.T.. Maka Nabi Daud A.S. pun bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.WT.
Begitulah sikap para Nabi A.S. apabila mereka menyadari kekhilafan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.WT. Kisah- kisah yang berlaku pada zaman para Nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa saja makhluk Allah yang berada di bumi yang sama-sama kita tumpangi ini.
Dikutip dari 115 Kisah Teladan Penuh Hikmah [ ALLAH TIDAK PERNAH TIDUR ]
Pnerbit : Karta Media
Wendy Setyawan, S.IP
Langganan:
Postingan (Atom)