Rabu, 16 Maret 2016

Kisah Pertaubatan Nabi Daud as

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda, “Dahulu Nabi Daud as telah membagi masa ini menjadi empat bagian: Satu hari diperuntukkannya mengkaji ilmu bersama kaum Bani Israil, satu hari dipergunakannya di mihrab, satu hari dipergunakan untuk melaksanakan pengadilan dan sehari lagi untuk para istri beliau.”

Ketika beliau sedang mengkaji ilmu bersama kaum Bani Israil, tiba-tiba sebagian dari mereka berkata, “Tidak sehari pun yang dilalui anak cucu Adam, kecuali dia melakukan suatu perbuatan dosa.”

Daud as berkata dalam hati, “Hari dimana aku menyendiri di mihrab, pasti aku terhindar dari dosa.” Allah pun menyampaikan wahyu kepada beliau, “Hai Daud, waspadalah sampai kau lihat cobaanmu!”

Dan diceritakan dari Al Hasan, “Ketika Daud as berada di mihrabnya sedang membuka-buka kitab Zabur untuk dibaca, tiba-tiba masuklah seekor burung dari sebuah celah rumah dan hinggap di hadapan beliau. Tubuh burung itu terbuat dari emas dan sepasang sayapnya dari sutera halus dan bermahkotakan mutiara. Paruhnya terbuat dari permata zamrud dan sepasang kakinya pun terbuat dari permata pirus.

Karena burung yang sangat indah itu hinggap di hadapan Nabi Daud as , beliau pun memperhatikannya dan berkeyakinan bahwa burung tersebut jenis burung surga, bahkan beliau terpesona akan keindahannya. Pada masa itu Nabi Daud as mempunyai seorang putera kecil, maka beliau berkata, “Sebaiknya burung ini aku tangkap saja, lalu kuperlihatkan kepada puteraku.”

Nabi Daud as berusaha menangkapnya, akan tetapi burung tersebut terbang menjauh, dan beliau pun tetap berkeinginan untuk mendapatkannya. Setiap kali tangan beliau hendak meraihnya, seketika itu pula burung tersebut menghindar. Begitulah seterusnya, setiap kali beliau mendekat, burung itu menjauh kembali hingga Nabi Daud as berdiri dari tempatnya dan menutup Kitab Zabur beliau.

Nabi Daud as mencarinya terus hingga sampailah di sebuah celah. Dan masuklah Daud as ke dalam lubang tersebut, tiba-tiba pandangan beliau menangkap sosok wanita yang sedang mandi. Beliau terpaku menyaksikan keindahan ciptaan Allah tersebut. Sementara sang wanita itu pun akhirnya mengetahui bahwa sepasang mata mengawasi dirinya, seketika itu diurainya keindahan rambut panjangnya untuk menutupi sekujur tubuhnya.

Kembali pada hadis Hasan. Hasan menambahkan; setelah wanita cantik itu menguraikan rambutnya. Daud as semakin bertambah kagum (akan kecantikannya). Kemudian beliau kembali ke tempat semula (mihrab) dengan hati yang dipenuhi gejolak cinta membara kepada sang wanita itu.

Akhirnya Daud as mengutus seseorang untuk mencari informasi tentang identitas wanita cantik tersebut. Utusan itu kembali kepada Nabi Daud as dengan membawa informasi yang didapatkannya. “Dia bernama Tasyayu, putri Hanana. Suaminya bernama Uriya bin Shura, kini berada di Balqa’ bersama kemenakan (putra saudara wanita) Nabi Daud, sedang mengepung sebuah benteng musuh.

Nabi Daud as akhirnya mengirim surat kepada kemenakannya yang berisikan:
“Jika suratku ini sudah sampai kepadamu, maka perintahkanlah kepada Uriya bin Shura agar dia membawa tabut dan bergabung dalam barisan (tentara) terdepan kita!”
Biasanya anggota pasukan yang berada pada barisan terdepan, tidak kembali sebelum terbunuh atau mendapatkan kemenangan dari Allah SWT.

Pemimpin tentara itu memanggil Uriya dan kemudian membacakan surat Nabi Daud as. Uriya pun menjawab, “Aku siap melakukan semuanya!”
Uriya lantas membawa tabut dan berjalan bersama-sama pasukan di barisan terdepan, dan akhirnya terbunuh. Setelah Uriya gugur, putra saudara wanita (kemenakan) Daud as berkirim surat kepada beliau untuk mengabarkan berita tentang gugurnya Uriya.

Ketika masa iddah istri Uriya telah habis, Daud as mengutus seseorang meminang Tasyayu’. Selanjutnya menikahlah mereka.
Setelah Nabi Daud as menyunting Tasyayu binti Hanana, ketika sedang berkhalwat di mihrab, tiba-tiba menangkap suara keras yang diikuti munculnya dua laki-laki asing. Keduanya lantas menyerbu Nabi Daud as, hingga beliau pun terkejut karenanya. Kedua laki-laki itu berkata, “Jangan terkejut! Kami adalah dua orang laki-laki yang sedang terlibat dalam suatu perkara, dimana salah satu dari kami telah berbuat zalim atas yang lain. Karena itu, berilah kami keputusan yang adil dan janganlah Anda menyimpang dari kebenaran dan tunjukan kami ke jalan yang lurus!”

Nabi Daud as berkata, “Coba ceritakan kepadaku akan keberadaan kalian berdua!”
Salah seorang dari keduanya berkata, “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina, sedangkan aku hanya memiliki seekor. Saudaraku ini lalu berkata kepadaku, ‘Serahkanlah kambing itu kepadaku!’ Dia pun selalu mengalahkanku dalam setiap perdebatan, yakni dengan memaksa dan berbuat aniaya terhadapku. Dia pun secara paksa meminta dan mengambil kambingku untuk digabungkan dengan kambing-kambingnya. Dalam berbicara pun dia lebih unggul dibanding aku, jika dipanggil, dialah yang lebih dahulu datang dan jika keluar, dia lebih banyak pengikutnya.”

Nabi Daud as lalu berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS Shaad: 24)

Perawi hadis ini selanjutnya mengatakan, “Kemudian tertawalah orang yang dituduh melakukan semua itu.”

Nabi Daud as pun berkata, “Engkau telah berbuat zalim, mengapa justru tertawa, rupanya kau perlu kapak untuk menghancurkan ini dan inimu?” – yakni kening dan mulutnya.

Malaikat (yang berubah wujud menjadi seorang laki-laki) itu lalu berkata, “Saya kira Andalah yang perlu diperlakukan begitu!” Akhirnya kedua malaikat itu menghilang.

Dalam riwayat lain perawi berkata, “Kedua malaikat itu lalu mengubah bentuknya (pada bentuknya yang asli) dan kemudian naik (ke langit) seraya berkata, “Lelaki ini telah menghakimi dirinya sendiri.”

Nabi Daud as pun mengerti bahwa yang dimaksud adalah diri beliau sendiri. Beliau pun merebahkan diri, bersujud selama 40 hari. Selama bersujud beliau tidak pernah mengangkat kepala, kecuali hanya untuk melakukan suatu kebutuhan yang semestinya dilakukan. Seusai menunaikan kebutuhannya, beliau pun sujud kembali.

Dalam keseharian beliau tidak makan dan minum, beliau terus-menerus menangis sehingga di sekitar kepala tumbuh rerumputan. Nabi Daud as selalu memanggil nama Tuhannya, Allah SWT seraya mengucapkan taubat.

Dalam sujudnya selalu membaca, “Maha Suci Sang Pencipta cahaya yang menghalangi semua hati. Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, Engkau telah mengosongkan antara aku dan musuhku iblis sehingga aku tidak mampu untuk memfitnahnya ketika Engkau turun bersamaku.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, selamanya aku tidak pernah mengambil hikmah dari apa yang pernah aku nasihatkan kepada orang lain. Tuhanku, Engkau telah memerintahkan kepadaku agar aku terhadap anak yatim bagaikan sang ayah yang penuh kasih sayang dan terhadap sang janda bagaikan suami yang penuh kasih sayang pula, tapi aku lalu melupakan akan janji Engkau.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, dengan mata yang mana aku harus melihat Engkau pada hari kiamat nanti? Karena sesungguhnya orang-orang yang zalim telah memandang dari sisi yang samar-samar.
Maha Suci Sang Pencipta, Tuhanku! Kecelakaanlah bagi Daud akibat dosa besar yang telah menimpanya.
Maha Suci Sang Pencipta, Tuhanku. Kerusakanlah bagi Daud ketika tabir telah dibuka darinya.”

Kemudian kepada beliau dikatakan, “Inilah Daud yang salah itu?”

(Nabi Daud as meneruskan doanya) , “Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, hanya kepada Engkau-lah aku lari dengan membawa segala dosaku dan aku mengaku atas segala kesalahanku. Oleh karena itu, janganlah Engkau jadikan aku orang-orang yang berputus asa dan jangan pula Engkau susahkan aku pada hari Kiamat nanti.”

Nabi Daud as mengulang-ngulang doa tersebut dalam munajat beliau.

Selanjutnya dikatakan oleh sang perawi, “Lalu datanglah panggilan kepadanya, ‘Laparkah engkau maka engkau akan diberi makan? Hauskah engkau maka engkau akan diberi minum? Teraniayakah engkau maka engkau akan diberi pertolongan?’ Akan tetapi, Daud as tidak menanggapinya dalam menyebutkan kesalahannya.

Dikatakan pula oleh sang perawi, “Nabi Daud as pun berteriak dengan teriakan yang menggoncangkan apa yang ada di sekeliling beliau. Beliau memanggil-manggil, ‘Wahai Tuhanku! Ampunilah dosa yang telah menimpaku!’ Beliau pun dipanggil, ‘Wahai Daud, angkatlah kepalamu! Sungguh Aku telah mengampuni dosamu’.”

Dari Wahb bin Munabbih, “Sesungguhnya ketika Nabi Daud as datang ke makam Uriya, beliau duduk bersimpuh di sisinya seraya menuangkan debu di atas kepala beliau dan berkata, “Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud. Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakanlah bagi Daud ketika timbangan amal telah dipancangkan.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud pada hari ketika orang yang dianiaya telah menuntut balas kepada orang yang menganiaya.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud ketika dia dicampakkan di atas mukanya ke neraka bersama dengan orang-orang yang bersalah.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud.”

Berkatalah sang perawi, “Lalu sampailah kepada Nabi Daud as sebuah panggilan dari langit, “Wahai Daud, sungguh Aku telah mengampuni dosamu, Aku telah mengasihi tangismu dan Aku telah memaafkan kesalahanmu.”
Nabi Daud as berkata, “Bagaimana mungkin Engkau memberikan ampunan kepadaku, sedangkan temanku ini tidak mau mengampuniku.”
Allah SWT berfirman, “Wahai Daud, Aku telah memberikan pahala kepadanya di akhirat nanti, dimana (kenikmatan) pahala itu sebelumnya belum pernah dipandang oleh kedua matanya dan belum pernah didengar oleh kedua telinganya.
Lalu Ku-katakan, “Puaskah hamba-Ku?”
Ia berkata, “Dari mana aku mendapatkan ini, padahal amalku belum mencapainya?”
Aku pun berfirman kepadanya, “Ini adalah sebagai pengganti dari hamba-Ku Daud, lalu Aku memintanya memberikannya kepadamu dan dia memberikannya kepadamu karena Aku.”

Nabi Daud as pun berkata, “Wahai Tuhanku, sekarang aku tahu bahwa Engkau telah mengampuniku.”

(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)

Selasa, 15 Maret 2016

Doa Nabi Sulaiman as untuk Mensyukuri Nikmat

 رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai, serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih." (QS. Al-Naml: 19).

Senin, 14 Maret 2016

Kisah Nabi Daud A.S

 Nabi Daud ialah salah seorang rasul daripada 25 Rasul yang wajib kita ketahui. Nabi Daud merupakan antara Rasul yang dianugerahkan Allah kerasulan dan kerajaan. Kitab Nabi Daud adalah kitab zabur. Firman Allah dalam surah al Israa: "Dan Tuhanmu lebih mengetahui akan sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi; dan sesungguhnya Kami telah melebihkan setengah Nabi-Nabi atas setengahnya yang lain; dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Nabi Daud." [55]

Kelebihan Nabi Daud antaranya ialah, Allah menundukkan gunung-ganang dan burung-burung dan memerintahnya bertasbih bersama-sama Nabi Daud. Dia juga mempunyai suara yang merdu dan memahami bahasa burung. Dan Nabi Daud mempunyai keistimewaan membuat baju perang daripada besi. Dia dapat melembutkan besi tanpa perlu menggunakan api. Hal ini diterangkan dalam Al Quran surah Saba 10 dan 11.

“Dan demi sesungguhnya, Kami telah memberikan kepada Nabi Daud limpah kurnia dari Kami (sambil Kami berfirman): “Hai gunung-ganang, ulang-ulangilah mengucap tasbih bersama-sama dengan Nabi Daud, dan wahai burung-burung (bertasbihlah bersama-sama dengannya)!” Dan juga telah melembutkan besi baginya”[ 10]

(Serta Kami wahyukan kepadanya): “Buatlah baju-baju besi yang luas labuh, dan sempurnakanlah jalinannya sekadar yang dikehendaki; dan kerjakanlah kamu (wahai Daud dan umatmu) amal-amal yang soleh, sesungguhnya Aku Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan”[ 11]

Nabi Daud adalah nabi yang berani. Nabi Daud menyertai perang bersama Raja Talut melawan Jalut. Pada masa itu dia masih muda. Tidak semua orang beriman dalam pasukan Raja Talut ini. Untuk menguji siapa yang benar-benar beriman, Allah telah mengilhamkan Raja Talut untuk menguji tenteranya. Ini diceritakan dalam Al Baqarah ayat 249-251:

Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah ia dari pengikutku, dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya ia dari pengikutku, kecuali orang yang menceduk satu cedukan dengan tangannya”. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari mereka. Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): “Kami pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya”. Berkata pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: “Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah; dan Allah (sentiasa) bersama-sama orang-orang yang sabar”.[249]
Dan apabila mereka (yang beriman itu) keluar menentang Jalut dan tenteranya, mereka berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! Limpahkanlah sabar kepada kami, dan teguhkanlah tapak pendirian kami serta menangkanlah kami terhadap kaum yang kafir”[250]

Oleh sebab itu, mereka dapat mengalahkan tentera Jalut dengan izin Allah, dan Nabi Daud (yang turut serta dalam tentera Talut) membunuh Jalut. Dan (sesudah itu) Allah memberikan kepadanya (Nabi Daud) kuasa pemerintahan, dan hikmat (pangkat kenabian) serta diajarkannya apa yang dikehendakiNya. Dan kalaulah Allah tidak menolak setengah manusia (yang ingkar dan derhaka) dengan setengahnya yang lain (yang beriman dan setia) nescaya rosak binasalah bumi ini; akan tetapi Allah sentiasa melimpahkan kurniaNya kepada sekalian alam.[251]
 
Nabi Daud membahagikan hidupnya kepada 4 bahagian. Satu bahagian untuk bekerja dan berehat, satu bahagian untuk beribadat, satu bahagian untuk mendengar masalah rakyat dan satu bahagian lagi untuk memberi khutbah/ceramah. Pada suatu hari, nabi Daud tidak membenarkan siapa-siapa pun untuk bertemunya kerana hari tersebut telah dia khususkan untuk beribadah. Dia telah memberitahu pengawal-pengawalnya. Tapi entah bagaimana, dua orang lelaki telah memanjat tembok istananya untuk menemuinya. Nabi Daud mula berasa takut dalam hatinya. Tapi dia masih melayan keduanya tersebut. Salah seorang lelaki tersebut mempunyai 99 ekor kambing dan seorang lagi hanya mempunyai seekor sahaja. Lelaki yang ada hanya seekor kambing itu memberitahu bahawa yang ada 99 ekor kambing itu inginkan kambingnya yang hanya seekor dan dia telah kalah dalam perdebatan dengan orang yang ada lagi banyak kambing itu. Nabi Daud terburu-buru membuat keputusan bahawa orang yang satu lagi itu berlaku zalim tanpa mendengar daripada kedua-dua belah pihak. Sebenarnya dua orang lelaki itu adalah malaikat yang dihantar Allah untuk menguji kebijaksanaan Nabi Daud. Firman Allah dalam surah Sad:

Dan sudahkah sampai kepadamu (wahai Muhammad) berita (perbicaraan dua) orang yang berselisihan? Ketika mereka memanjat tembok tempat ibadat;[21]
Iaitu ketika mereka masuk kepada Nabi Daud, lalu ia terkejut melihat mereka; mereka berkata kepadanya: ” Janganlah takut, (kami ini) adalah dua orang yang berselisihan, salah seorang dari kami telah berlaku zalim kepada yang lain; oleh itu hukumkanlah di antara kami dengan adil, dan janganlah melampaui (batas keadilan), serta pimpinlah kami ke jalan yang lurus.[22]
” Sebenarnya orang ini ialah (seorang sahabat sebagai) saudaraku; ia mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor sahaja; dalam pada itu ia (mendesakku dengan) berkata: ‘ Serahkanlah yang seekor itu kepadaku ‘, dan dia telah mengalahkan daku dalam merundingkan perkara itu”.[23]
Nabi Daud berkata: ” Sesungguhnya ia telah berlaku zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu (sebagai tambahan) kepada kambing-kambingnya; dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bergaul dan berhubungan (dalam berbagai-bagai lapangan hidup), setengahnya berlaku zalim kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh; sedang mereka amatlah sedikit!” Dan Nabi Daud (setelah berfikir sejurus), mengetahui sebenarnya Kami telah mengujinya (dengan peristiwa itu), lalu ia memohon ampun kepada Tuhannya sambil merebahkan dirinya sujud, serta ia rujuk kembali (bertaubat).[24]
Ada suatu lagi cerita di dalam Al Quran mengenai nabi Daud dan anaknya Nabi Sulaiman. Ada seorang lelaki mempunyai kebun dan seorang yang mempunyai kambing. Kambing itu telah merosakkan kebun orang yang satu lagi itu. Nabi Daud memutuskan untuk memberi kambing kepada pemilik kebun itu. Tapi Nabi Sulaiman ada idea lebih baik. Dia mencadangkan, pemilik kambing harus menyerahkan kambing kepada pemilik kebun untuk sementara waktu, dan pemilik kebun itu boleh mengambil manfaat daripada kambing itu. Dan pemilik kambing yang asal itu harus mengerjakan kebun yang rosak itu sampai hasilnya boleh dituai. Selepas kebun sudah boleh dituai, pemilik kebun harus memulangkan kembali kambing itu. Dalam surah Al-Anbiya Allah berfirman:

Dan (sebutkanlah peristiwa) Nabi Daud dengan Nabi Sulaiman, ketika mereka berdua menghukum mengenai tanaman-tanaman semasa ia dirosakkan oleh kambing kaumnya pada waktu malam; dan sememangnya Kamilah yang memerhati dan mengesahkan hukuman mereka.[78]

Maka Kami beri Nabi Sulaiman memahami hukum yang lebih tepat bagi masalah itu; dan masing-masing (dari mereka berdua) Kami berikan hikmat kebijaksanaan dan ilmu (yang banyak); dan Kami mudahkan gunung-ganang dan unggas memuji Kami bersama-sama dengan Nabi Daud; dan adalah Kami berkuasa melakukan semuanya itu.[79]

Dan Kami mengajar Nabi Daud membuat baju-baju besi untuk kamu, untuk menjaga keselamatan kamu dalam mana-mana peperangan kamu, maka adakah kamu sentiasa bersyukur?[80]
Nabi Daud juga dipuji sebagai sebaik-baik orang yang beribadat dan berpuasa. Hadis Rasulullah mengenainya:
David (PBUH) fasted every other day. ‘Abdullah Ibn ‘Amr Ibn Al-‘As narrated: “Allah’sApostle (PBUH) said to me: The most beloved fasting to Allah was the fasting of (the Prophet)David, who used to fast alternate days. And the most beloved prayer to Allah was the prayer ofDavid, who used to sleep for (the first) half of the night and pray for one third of it and (again)sleep for a sixth of it.”1
‘Abdullah Ibn ‘Amr Ibn Al-‘As also narrated: “The Prophet (PBUH) said to me: I havebeen informed that you pray all the nights and observe fast all the days; is this true? I replied: Yes.He said: If you do so, your eyes will be weak and you will get bored. So fast three days a month, forthis will be the fasting of a whole year. (Or equal to the fasting of a whole year). I said: I findmyself able to fast more. He said: Then fast like the fasting of (the Prophet) David (PBUH) whoused to fast on alternate days and would not flee on facing the enemy.”2
Nabi Daud ialah salah seorang rasul daripada 25 Rasul yang wajib kita ketahui. Nabi Daud merupakan antara Rasul yang dianugerahkan Allah kerasulan dan kerajaan. Kitab Nabi Daud adalah kitab zabur. Firman Allah dalam surah al Israa: "Dan Tuhanmu lebih mengetahui akan sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi; dan sesungguhnya Kami telah melebihkan setengah Nabi-Nabi atas setengahnya yang lain; dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Nabi Daud." [55] Kelebihan Nabi Daud antaranya ialah, Allah menundukkan gunung-ganang dan burung-burung dan memerintahnya bertasbih bersama-sama Nabi Daud. Dia juga mempunyai suara yang merdu dan memahami bahasa burung. Dan Nabi Daud mempunyai keistimewaan membuat baju perang daripada besi. Dia dapat melembutkan besi tanpa perlu menggunakan api. Hal ini diterangkan dalam Al Quran surah Saba 10 dan 11. “Dan demi sesungguhnya, Kami telah memberikan kepada Nabi Daud limpah kurnia dari Kami (sambil Kami berfirman): “Hai gunung-ganang, ulang-ulangilah mengucap tasbih bersama-sama dengan Nabi Daud, dan wahai burung-burung (bertasbihlah bersama-sama dengannya)!” Dan juga telah melembutkan besi baginya”[ 10] (Serta Kami wahyukan kepadanya): “Buatlah baju-baju besi yang luas labuh, dan sempurnakanlah jalinannya sekadar yang dikehendaki; dan kerjakanlah kamu (wahai Daud dan umatmu) amal-amal yang soleh, sesungguhnya Aku Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan”[ 11] Nabi Daud adalah nabi yang berani. Nabi Daud menyertai perang bersama Raja Talut melawan Jalut. Pada masa itu dia masih muda. Tidak semua orang beriman dalam pasukan Raja Talut ini. Untuk menguji siapa yang benar-benar beriman, Allah telah mengilhamkan Raja Talut untuk menguji tenteranya. Ini diceritakan dalam Al Baqarah ayat 249-251: Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah ia dari pengikutku, dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya ia dari pengikutku, kecuali orang yang menceduk satu cedukan dengan tangannya”. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari mereka. Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): “Kami pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya”. Berkata pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: “Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah; dan Allah (sentiasa) bersama-sama orang-orang yang sabar”.[249] Dan apabila mereka (yang beriman itu) keluar menentang Jalut dan tenteranya, mereka berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! Limpahkanlah sabar kepada kami, dan teguhkanlah tapak pendirian kami serta menangkanlah kami terhadap kaum yang kafir”[250] Oleh sebab itu, mereka dapat mengalahkan tentera Jalut dengan izin Allah, dan Nabi Daud (yang turut serta dalam tentera Talut) membunuh Jalut. Dan (sesudah itu) Allah memberikan kepadanya (Nabi Daud) kuasa pemerintahan, dan hikmat (pangkat kenabian) serta diajarkannya apa yang dikehendakiNya. Dan kalaulah Allah tidak menolak setengah manusia (yang ingkar dan derhaka) dengan setengahnya yang lain (yang beriman dan setia) nescaya rosak binasalah bumi ini; akan tetapi Allah sentiasa melimpahkan kurniaNya kepada sekalian alam.[251]

Copy the BEST Traders and Make Money : http://ow.ly/KNICZ

Doa Dapat Merubah Takdir

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mu’min 60)

Amalan Ibadah Paling Dicintai ALLAH SWT

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam  malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan buka sehari.”

Para Nabi dan Rasul

Para Nabi dan Rasul adalah utusan ALLAH SWT... Mereka juga mendapatkan cobaan dan fitnah seperti manusia lain, dan ada yang berdosa, namun mereka selalu mendapatkan tuntunan ilahiah, oleh karena itu kita harus menghormati mereka... Wallahu'alam

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.
Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.
Lalu Nabi Daud A.S. berkata pada dirinya, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?"

Setelah Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Allah pun mengizinkan ulat merah itu berbicara. Lalu ulat merah itu pun mula berbicara kepada Nabi Daud A.S. "Wahai Nabi Allah! Allah S.W.T telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca ‘Subhanallahu ivalhamdulillahi wala ilaha illallahu mllahu akbar’ setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca ‘Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim’ setiap malam sebanyak 1000 kali.

Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud A.S, "Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?"
Karena pertanyaan Nabi Daud tersebut terkesan meremehkan kata-kata semut tadi. Nabi Daun segera tersadar bahwa telah memandang sebelah mata kepada ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah S.W.T.. Maka Nabi Daud A.S. pun bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.WT.

Begitulah sikap para Nabi A.S. apabila mereka menyadari kekhilafan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.WT. Kisah- kisah yang berlaku pada zaman para Nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa saja makhluk Allah yang berada di bumi yang sama-sama kita tumpangi ini.

Dikutip dari 115 Kisah Teladan Penuh Hikmah [ ALLAH TIDAK PERNAH TIDUR ]
Pnerbit : Karta Media
Wendy Setyawan, S.IP